Cunek Squad Goes to Sumatera Barat: Pantai Nirwana

by - 14.20


Wah, ini pas banget kalau diminta guru membuat karangan Bahasa Indonesia tentang liburan sekolah biar judulnya nggak melulu Berlibur ke rumah nenek. Yap! Kali ini, for the first time, kami mengadakan trip bareng sepersepupuan tanpa orang tua tentu saja, dengan tajuk Cucu Nekno Squad goes to Sumatera Barat. Drumrolls. Semua bermula ketika salah satu cucu nekno yang baru lulus SMP sudah bosan dengan masa penanggurannya selepas ujian sekolah.

Kurang lebih satu dekade lalu, trip persepupuan ini sudah pernah  dilaksanakan dengan sama-sama   menjelajani keindahan Sumatera Barat,  provinsi yang dianugerahkan keindahan alam seperti tidak ada habisnya. Hanya saja, masih disponsori para orang tua.  Bisa  intip keseruannya di sini.

Rapat Demi Rapat

Awalnya, ide camping ini hanya sampai di Jangkat saja dengan pertimbangan minim waktu dan biaya. Menyatukan pendapat  banyak kepala memang tidak pernah berjalan mudah. Muncul pula usul untuk mengubah tujuan ke Kerinci saja. Berkemah di area Rawa Bento dengan pemandangan Gunung Kerinci. Tanggung kalau ke Kerinci, gas langsung. Alahan Panjang. Begitulah kira -kira hasil rapat yang berlangsung hingga pukul 1 malam itu.

Pihak panitia inti (ceileh, panitia nggak tuh?!) yang tergabung dalam kepanitaan tak kasat mata ini adalah cucu nekno yang ikut trip dan sudah bekerja. Panita mulai bergerak dengan mendesain baju kaos seragam Cunek Squad. Yang tidak ikut berlibur pun juga sangat diperbolehkan memesan seragam resmi ini.

Rapat kedua dilaksanakan dengan fokus membahas moda transportasi. Kendaraan Hi-ace menjadi opsi utama dengan mempertimbangkan membawa bersama 12 peserta beserta semua perlengkapan perkemahan dan juga perlengkapan  pribadi. Yah, bayangkan saja,  dari 12 orang ini, 70% dari  keseluruhan adalah perempuan. Kebayang 'kan gimana rempong dan banyaknya barang yang bakal dibawa? Berbagai agen penyewa  mobil  Hi-ace telah dihubungi. Hanya saja, semua opsi yang tersedia melebihi budget yang ada.

Dalam rapat ketiga diputuskan untuk menggunakan 1 mobil pick up yang dapat ditumpangi 3 orang agar lebih leluasa membawa barang. Peserta sisanya akan menyewa 1 family car beserta supir yang on budget.

Persiapan Logistik



Adapun logistik yang kami bawa antara lain:
1. Kompor 1 tungku beserta gas 3kg
2. Kompor portable
3. Kompor bunga (untiuk memasakar)
4. teko masak air
5. Panci
6. Kuali
7. Kabel terminal (separjang mungkin)
8. Kabel terminal pendek
g. Speaker (Buat karaokean)
10. Telur 1 Karpet
11. Mie 1 Kardus (dengan berbagarasa)
11. Kopi sachet ( 1 renteng)
13. Minuman coklat Sachet (1 renteng)
14. Bubuk perbumbuan duniawi
(lada bubuk, bubuk bakso, bawang putih bubuk)
15. Minyak goreng
16. Galon air (2 bh)
17. Kursi bambu buat nongki cantik ( 2 bh)
18. Meja
19. Tenda untuk 4-5 orang (3 bh)
20. Minyak goreng 1 lt
21. Beras
22. Penanak nasi
23. Karpet/matras untuk alas di masing-masing tenda
24. Piring
25. Gelas
26.  Sabun cuci piring


Keberangkatan


Akhirnya, setelah berbagai rapat dilalui dan para pasukan sudah kembali dari perantauan perjalanan dimulai pada 4 Juli 2026. Mobil bertolak dari Sarolangun pada pukul 7 malam. Menjemput separuh pasukan di Bangko dan menyusun barang yang berabrek-abrek sembari membeli kudapan dan minuman untuk dikonsumsi selama awal perjalanan, Cunek Squad siap menuju sumatera Barat pukul 22.40 WIB.

Perjalanan

Udara dingin mulai terasa saat menempuh Kabupaten Sawahlunto. Hal ini bertolak belakang dengan antrian pom bensin. Kami tidak menyangka jika pembelian BBM semakin sulit saat masuk Provinsi Sumatera Barat. Terutama jika lewat tengah malam, SPBU sudah tutup namun antrian mobil menjalar hingga berkilo-kilometer. Mobil pick up  ini  pun terpaksa membeli bensin ketengan agar tetap  berjalan. Selama perjalanan pun ada sebagian jalan yang sedang diperbaiki sehingga berlaku buka-tutupjalan.  Syukurlah karena kami menempuh di  malam hari   sehingga  antriannya tidak begitu lama.

Sebelum  pukul 5 pagi, kami beristirahat di Solok sembari menunggu subuh. Rumah makan Huller Mama selalu menjadi pilihan. Kamar mandi yang banyak dan tertutup, mushola yang memadai,  tempat makan yang juga besar, dan terutama tersedia  terminal listrik  hampir  di setiap meja membuat resto satu ini tidak  pernah sepi pengunjung. Walau dengan fasilitas  yang lengkap untuk para pejalan jauh, harga makanannya tidak  selangit. Sebenarnya, ini  lokasi yang pas  untuk mandi dan berganti pakaian namun karena kami berpisah jauh dengan   mobil satunya, niat tersebut  diurungkan.

Selesai istirahat sejenak,  perjalanan berlanjut dengan menuruni punggung Bukit Barusan via Sitinjau Lauik Road, elee. Pemandangan yang begitu asri diiringi dengan belokan tajam, kontur jalan yang curam, berselisih dengan mobil tangki minyak atau fuso pembawa barang, semakin memicu adrenalin karena pengingat bensin mobil pick up sudah berkedip. Haha. Dengan berakhirnya jalanan ekstrem tadi menandakan kita sudah dekat sekali dengan Kota Padang. Eits,  jangan lupa isi bensin di SPBU yang tepat berada di bawah  roller coaster mobil tadi.

Mobil sudah siap,  giliran para penumpang menyiapkan diri. Melipir di masjid besar di pinggir jalan untuk membersihkan diri  dan berganti pakaian dengan seragam andalan. Kadang komedi sendiri yang menghampiri hidup ini. Mobil pick up yang kami tumpangi diarahan untuk parkir  di luar halaman masjid. Selidik punya selidik, Bapak tukang parkir  mengira mobil ini membawa barang jualan. Kebetulan masjid yang agak besar dan berada di pinggir jalan ini memang lokasinya dekat pasar. ToT.  Kami pun menjelaskan maksud dan tujuan kami hingga akhirnya diarahkan untuk dapat parkir di halaman masjid. Bayangkan saja,  mau bongkar muatan yang isinya pakaian di tengah pasar. LOL. Tak lupa menunggu para gadis berias diri yang memang memakan waktu lumayan lama ya guys ya. Untung diri ini nggak sampai ketiduran.  Yosh! Siap menuju destinasi pertama.

Pantai Nirwana



Pantai Nirwana menjadi babak pertama dari keseluruhan rangkaian Cunek Squad Goes to Sumatera Barat ini. Untuk menuju Pantai Nirwana, kita tidak perlu memasuki Kota Padang. Belok kiri di pertigaan Pasar Bauang, ikuti rambu-rambu yang ada menuju Teluk Bayur yang terkenal itu kemudian tidak berapa jauh dari sana. Pantai Nirwana identik dengan  hamparan pohon kelapa di  garis pantai hingga di daratannya. Begitu pula terumbu karang yang banyak ditemui di penggir pantai. Air lautnya yang lumayan tenang dan tidak begitu dalam, cocok bagi yang mau bermain air atau mandi.



Kami tiba sekitar pukul 10.00 WIB dengan membayar  tarif IDR20.000 per orang,  tidak termasuk biaya parkiar. Sayangnya, cuaca kurang mendukung.  Langit tampak tidak begitu ceria, meski begitu, tidak mengurangi keseruan kami menghabiskan waktu bersama. Yah, walaupun harus angkat bentang karpet karena kadang gerimis kadang reda. Akhirnya awan menumpahkan isinya saat azan Zuhur berkumandang. Tenang saja karena fasilitas di pantai ini dilengkapi dengan masjid, toilet, dan kamar mandi untuk bilas yang nyaman. Usai mendirikan solat, kami kembali membentang karpet andalan untuk menyantap nasi bungkus sebagai menu makan siang hari ini. Wah, memang harus makan sedikit lebih cepat karena langit mulai bergemuruh.  Hujan makin deras dan kami meninggalkan Pantai Nirwana menuju Alahan Panjang. Cukup sekian dulu, ya! Nanti disambung dengan postingan Alahan Panjang.




You May Also Like

0 komentar