Jelajahi Indahnya Bagian Barat Sumatera

by - 01.20

Beberapa tahun terakhir, #ExploreIndonesia menjadi trend. Jujur saja, dengan adanya acara M*Tri*M*Adventure di salah satu stasiun televisi swasta, ditambah dengan media sosial instagram yang begitu digemari para fotografer profesional maupun accidential, serpihan-serpihan surga di pelosok Indonesia semakin dikenal. Setelah selama ini begitu banyak melihat keindahan alam nusantara dan kekayaan budaya Indonesia melalui televisi, instagram, dan media informasi lain, kali ini saya menjadi bagian yang terjun langsung menikmatinya. Setelah dua tahun hanya menyusuri beberapa lokasi wisata ala Kota Palembang, kali ini saya menyusuri provinsi bagian barat Sumatera. Dari Selatan ke Barat.

Terakhir trip saya bersama keluarga menikmati kesederhanaan dan kesantunan Yogyakarta dan kemegahan Borobudur di Magelang, Jawa Tengah dua tahun lalu. Trip kali ini berbeda karena saya tidak bersama bapak, Bunda, dan Ayuk melainkan saya 'menyusul' perjalanan bersama keluarga besar dengan modal tabungan sendiri (cuma dikasih uang jajan, alhamdulillah cukup untuk menutupi anggaran untuk oleh-oleh). Palembang-Bukittinggi/Padang dapat dicapai cukup dengan IDR165.000 dalam waktu 18 jam dengan bus kelas ekonomi. Berangkat pukul 13.00 WIB pada 30 Januari dari Palembang, faktanya menyentuh Bukittingi pada pukul 12.00 WIB keesokan harinya. Memang akhir tahun merupakan momen bagi hampir semua orang berlibur. Bukittinggi merupakan salah satu lokasi wisata dan belanja favorit di Sumatera Barat. Bukan hanya mereka yang berasal dari Sumatera Barat saja yang menghabiskan akhir tahun di tempat terdapatnya Jam Gadang ini, tetapi juga penduduk provinsi tetangga juga turut memenuhi kota ini. Kendaraan dengan nomor polisi yang berasal Riau, Jambi, bahkan Sumatera Selatan ditemukan berkeliaran di Bukittingi dan sekitarnya. Alhasil kemacetan telah dirasakan berkilo-kilometer sebelum mencapi kota ini. Keuntungannya, dengan menaiki bus, kami dapat menikmati pemandangan Danau Singkarak, Bukit Barisan, dan persawahan sepanjang jalan ketika memasuki provinsi Sumatera Barat.


Photo by: @viviemwe

Setelah 23 jam perjalan, keluarga besar kami (adik ibu saya dan para sepupu saya) menjemput kami (saya dan sepupu yang berangkat dari Palembang). Makan siang menjadi tujuan utama untuk saat ini.

---31 Desember 2016

Kelok 9, Jalan Raya Tetap Bisa Jadi Lokasi Wisata

Setelah istirahat sholat makan, kami masuk ke pemberhentian pertama yaitu Kelok 9. Bagi kalian yang hendak menuju pekan Baru dari Sumatera Barat akan menempuh jalan ini. Sesuai namanya, jumlah tikungannya memang 9 dan terdapat nama atau nomor kelok di setiap kelok namun tulisan tersebut sudah mulai hilang. Mencapai puncak kelok 9 dengan matahari yang menyengat namun tampaknya semangat para turis lokal tidak kalah dengan sinar matahari. Kami pun turut mengambil gambar di tempat ini dengan menyewa fotografer lokal yang menawarkan jasa sekaligus dengan foto tercetak IDR10.000/foto yang dicetak. Sayangnya, ketika meminta tolong sang fotografer untuk mengambil gambar dengan handphone salah satu dari kami, foto tidak terambil. Karena silaunya matahari, sepertinya fotografer salah memencet tombol untuk menjepret. Kami berinisiatif menggunakan bipro milik sepupuku.

 Location: Jalan Raya Kelok 9, Payakumbuh Sumatera Barat

Printed photo by local photographer |  Location: Jalan Raya Kelok 9, Payakumbuh Sumatera Barat

Indonesia juga punya Grand Canyon, Lembah Harau namanya

Lokasi tujuan selanjutnya lebih sejuk. Tempat ini dikenal sebagai Grand Canyon Indonesia, pernah dengar? Lembah Harau namanya. Jika menyusuri hingga ke ujung lembah maka akan menemukan sebuah air terjun. Kami hanya menempuh hingga setengah perjalanan karena malam akan menjelang. Pemandangan di sini cukup menenangkan. Para pengunjung bisa memilih sendiri dimana akan berhenti untuk mengambil view yang pas.
Photo by @dradesniati | in frame: @normasartuikayulinar @ratuaghnia @intanormala @malmal_amalia @viviemwe, @nezanamira | Location: Lembah Harau, Limapuluh Koto, Sumatera Barat.

Jam Gadang nan Terkenal

Malam tahun baru semakin mendekat. Kami menikmati Sate Padang sebagai makan malam. Khas dari rumah makan sate padang ini adalah kerupuk jangeknya. Ukuran yang tidak biasa dengan rasa yang lezat akan membuat lidah anda ketagihan. Perjalanan berlanjut ke Jam Gadang, Bukittinggi. Kendaraan terparkir cukup jauh. Tak cukup dengan itu, kami masih dipaksa olahraga dengan menaiki kurang lebih 88 anak tangga untuk mencapai lokasi. Di sepanjang pinggir tangga, cinderamata khas Sumatera Barat terpampang. Sekitaran Jam Gadang telah dipenuhi banyak orang yang menantikan tahun baru. Hanya terdapat beberapa ruang untuk membentang tikar. memang benar kata orang, masyarakat Minang hobi berdagang. terbukti mereka memanfaatkan kesempatan ini dengan menjual pernak pernik yang dibutuhkan seperti tikar, bandana dengan lampu, kembang api, dan terompet. Kami yang tidak tahu jika akan seperti ini akhirnya membeli tikar karena tidak ada yang sanggup untuk kembali mengambil tikar di mobil. Bandana dengan hiasan telinga kelinci yang lucu pun menarik perhatian kami. Saya dan semua sepupu saya mengenakannya dengan membelinya di pedagang asongan setelah menawar harga tentunya. Sepertinya, beberapa pengunjung tertarik dengan bandana ini. Kami beberapa kali ditanyakan penduduk lokal dengan bahasa daerah mereka--mungkin mereka mengira kami penduduk lokal juga. Saya awalnya bingung dan berusaha menjawab, akhirnya menggunakan bahasa Indonesia. Kami meninggalkan lokasi sebelum jam Cinderella berbunyi sebelum untuk mengantisipasi kemacetan yang akan terjadi kelak.

 Photo by: @viviemwe | In frame: @malmal_amalia | Location: Jam Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat.

Photo by: local photographer | In frame: @normasartuikayulinar @ratuaghnia @intanormala @malmal_amalia @viviemwe | Location: Jam Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat.

*catatan: tetap berhati-hati karena di hari tahun baru, banyak sekali orang-orang menghidupkan kembang api. Sebagian tahu bahaya dan cara mengantisipasinya, namun sebagian tidak. Ketika berjalan menuju mobil, kembang  api terarah pada kami. untungnya masih ada angin yang mengubah arah meletusnya dan kami yang melihat sekelebat luncuran cahaya sigap langsung berlari.

Kami menginap di wisma yang terletak di Padang Panjang, kampung halaman Hayati, tokoh utama wanita pada film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Kamu penggemar Pevita Pearce, Herjunot Ali, atau Reza Rahardian? pasti pernah menonton film ini. Wisma tempat kami menginap pun bernama sama. Padang Panjang merupakan kota tertinggi di Sumatera Barat. Tidak heran jika di wisma ini tidak disediakan pendingin ruangan ataupun kipas angin namun kita tidak akan merasa kepanasan.

---1 Januari 2017


Pagi menjelang, pukul 06.20 kami memulai perjalanan bahkan sebelum sarapan disediakan. Pagi ini diisi dengan wisata budaya ke Istana Baso Paguruyung, Batusangkar. Perjalanan dihiasi oleh keindahaan sawah dan gunung  Merapi. Tak lupa, kami mengambil kesempatan untuk jeprat-jepret di sini.
 Photo by: @normasartikayulinar | In frame: @malmal_amalia | Location: Padang Panjang, Sumatera Barat

Istana Masyarakat Minang

Menempuh perjalan kurang lebih 1 jam, akhirnya tiba di lokasi. Istana Baso Paguruyung menyuguhkan kekayaan budaya Indonesia khas minang pada zaman dahulu kala, melihat alat tradisional, ukiran, bentuk rumah atau istana yang digunakan dulu oleh ekrajaan Paguruyung. Cukup dengan IDR10.000/orang kami dapat dengan bebas mengitari lingkungan istana ini. Jika ingin memasuki istana, pengunjung diminta untuk melepas alas kaki dan meletakkannya di kantung plastik yang disediakan. Terdapat buku tamu untuk diisi bagi pengunjung dari luar kota.

Photo by: @malmal_amalia | Location: Istana Baso Paguruyung, Batusangkar, Sumatera Barat

 Photo by: @normasartikayulinar | In frame: @malmal_amalia | Location: Istana Baso Paguruyung, Batusangkar, Sumatera Barat

Satu Titik untuk dua Lokasi Wisata

Meninggalkan istana pada pukul 09.14, tentunya setelah sarapan. Di perjalanan menuju pemberhentian selanjutnya kami membeli nasi padang untuk dimakan ketika berpiknik. Yap, kami akan berpiknik di Puncak Lawang. Kurang lebih memakan waktu 2 jam dengan jalan khas Puncak, berkelok-kelok dan mendaki. Namun semua terbayar ketika mencapai lokasi. Sama seperti Jam Gadang, Puncak Lawang juga ramai pengunjung. Lokasi ini juga ttidak jauh dari  Bukittingi. Tiap pengunjung  diwajibkan merogoh kocek IDR15.000/orang dan IDR10.000 untuk kendaraan. Di sini terdapat flying fox bagi yang ingin mencoba menikmati keseruan dengan memacucu adrenalin cukup dengan IDR50.000. Pemandangan tidak hanya dipenuhi oleh Pohon Pinus dan wahana outbond, memandang ke arah bawah di sisi kiri saat menaiki Puncak lawang, pemandangan indah Danau Maninjau memanjakan mata.
Photo by: @viviemwe | In frame: @dradesniati, Saptinar | Location: Puncak Lawang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat

 Photo by: @malmal_amalia | In Frame: Danau Maninjau | Location: Puncak Lawang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat

 Photo by: @normasartikayulinar | In Frame: Flying fox | Location: Puncak Lawang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Danau Vulkanik, Danau Maninjau

Daanau Maninjau tergolong danau vulkanik. Di danau ini terdapat begitu banyak tempat budidaya ikan. Diberitakan banyak ikan terapung permukaan jika gempa telah terjadi. Melihat Danau Maninjau dari dekat dapat ditempuh dengan melewati kelok 44 (Ampek puluh Ampek). Tikungan di jalan ini begitu tajam dan curam. Para pengendara harus berhati-hati dan harus berhenti ketika terdapat mobil dari arah berlawanan melewati tikungan. Di setiap kelok terdapat perhitungan untuk melihat sudah sampai kelok berapa kita berada. Sisi jalan adalah Danau Maninjau, di sisi berlawanan adalah bukit barisan. Beberapa tulisan peringatan untuk berhati-hati akan banyak ditemui sepanjang perjalanan. Setelah melewati perjalan yang mengocok perut namun diobati dengan pemandangan yang indah, Danau Maninjau telah menanti. Silahkan pilih dimana akan berhenti untuk mengambil momen. Di tepi jalan banyak penduduk lokal menjual ikan dan makanan dengan bahan dasar hasil perairan.
Photo by: @dradesniati | In frame :@malmal_amalia @normasartikayulinar @intannormala @nezanamira @viviemwe @ratuaghnia


Perjalanan jauh akan ditempuh jika akan menuju Padang melewati pariaman. Di Pariaman sendiri  terdapat lokasi wisata yaitu Pantai Gondoria dan Pantai Kata. Sayang, matahari telah beranjak meninggalkan singgasananya sehingga kami hanya menikmati pemandangan dari dalam kendaraan. Penjelajahan bersama keluarga berakhir di sini. Perjalanan saya dilanjutkan bersama dua orang sepupu saya yang akan melanjutkan perjuangan menyusuri titik-titik wisata di Sumatera Barat. (bersambung....)

You May Also Like

0 komentar