• Home
  • About
  • Contact
twitter facebook instagram

Magition

~~ The Magical of Human Imagination ~~

Mari kita lanjutkan perjalanan menuju tujuan utama perkemahan yakni Alahan Panjang. Mobil berangkat dari Pantai Nirwana sekitar pukul 2 siang di bawah derasnya hujan. Rute perjalanan kembali mendaki Sitinjau Lauik Road dengan jarak pandang yang sangat dekat akibat kabut. Tidak seperti pagi hari, perjalanan kali ini dipadati oleh berbagai kendaraan sehingga memakan waktu lebih lama. Jangan lupa berbelok ke kanan di sebuah pertigaan dengan mengikuti petunjuk jalan mengikuti Jl.Padang - Alahan Panjang. Jika pemandangan telah berubah menjadi perkebunan teh berarti lokasi perkemahan semakin dekat. Ngapain sih ke Alahan Panjang? Kok niat banget mau staycation di sana? Mari kita kenalan dulu dengan Alahan Panjang!


Alahan Panjang

Alahan Panjang ini merupakan suatu kawasan yang tergabung dalam Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Solok sendiri dianugerahkan keindahan dari Sang Pencipta dengan terbentuknya sepasang danau vulkanik yang terkenal sebagai Danau Kembar yakni Danau di Atas dan Danau di Bawah. Nah, Alahan Panjang mengitari keindahan Danau di Atas. Meskipun namanya Danau di Atas, posisi permukaan danaunya justru malah di bawah dari permukaan jalan. Namun faktanya, secara geografis, permukaan danau ini berada di ketinggian 1.531 meter dari permukaan laut. Layaknya Ranu Kumbolo di Gunung Semeru, sejatinya Danau di Atas ini bisa kita capai setelah menaiki jalan raya dengan topografi mendaki. Tidak heran jika suhu di kawasan ini berkisar 15-22 derajat selsius karena memang tergolong dataran tinggi. Kabut tipis khas dataran tinggi pun tidak luput menyelimuti danau. Makanya, Alahan Panjang dijuluki Kota Dingin Tanpa Salju.

Mengikuti cuaca dingin, tanaman yang tumbuh dengan subur di sini pun juga khas dataran tinggi. Kita akan disambut dengan perkebunan sayur, strawberry, bawang, termasuk juga kebun teh sejauh mata memandang. Pohon Pinus yang tubuh subur di cuaca dingin pun juga hadir menambah keindahan pemandangan pinggir danau. Kehadiran Pohon Pinus, sekaligus cuaca yang dingin, danau yang indah, dan hamparan padang hijau yang luas membuat Alahan Panjang miliki pandangan mirip Swis hingga muncul istilah Swiss van Indonesia.


Camping

Wisata Alam Pimpiang atau Pulau Pimpiang menjadi area perkemahan yang kami pilih untuk staycation. Berada di pinggir danau langsung dan sedikit menjorok ke arah danau serta diteduhi dengan cukup banyak pohon pinus menjadi pertimbangan utama kami agar ketika hujan tidak begitu basah dan ketika terik tidak begitu menyengat. Banyak pula lampu gantung yang disematkan antar pohon sehingga saat malam tidak gelap. Biaya masuknya 20.000 per orang dan 10.000 per mobil. Diperkenankan mendirikan tenda sendiri namun disediakan juga tenda untuk disewakan. Area yang berbatasan langsung dengan danau telah dipenuhi oleh tenda sewaan. Kami pun mendirikan tenda sedikit di tengah. Area perkemahan ini juga dilengkapi dengan cukup banyak kamar mandi hanya saja kebersihan kamar mandinya yang sedikit diragukan. Perlu teliti memilih kamar mandi yang sesuai. Disediakan pula musola lengkap dengan peralatan solat. Di teras musola terdapat juga terminal listrik.



Kami tiba sekitar pukul 5. Hujan deras sudah mulai mereda hanya tinggal rintik gerimis saja. Kami mulai menurunkan barang, yang pertama tenda. Coba tebak berapa tenda yang kami dirikan? 5 tenda! 3 tenda untuk ukuran 4-5 orang dan 2 tenda untuk ukuran 1-2 orang. Tenda besar diutamakan untuk orang dan tenda kecil untuk logistik namun pada akhirnya, sesuai kehendak masing-masing saja. Tenda sudah berdiri kuat dengan pasak di setiap sudut, saatnya menurunkan logistik dan perlengkapan peribadi. Dan, Wow! Beberapa tas sudah menyerap air hujan sepanjang perjalanan. Meskipun telah diselimuti dengan terpal ternyata tidak luput dari genangan air hujan yang menyerap pada tas ransel pribadi. Beberapa personil mendapati pakaiannya basah bak korban banjir. Ada yang selamat karena setiap pakaian dibungkus lagi dengan kantong plastik, ada juga yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Beberapa helai pakaian yang berada di tas bagian atas masih selamat.

Malam itu, ditemani dengan suara musik yang mengalun melalui pengeras suara yang sudah dipersiapkan, kami menyiapkan makan malam dengan menu bakso plus mie putih dan sosis. Ada pula yang memasak air untuk menyeduh kopi dan menghangatkan badan. Semua aktivitas yang masuk dalam agenda "liburan" ini sebagian direkam dan diarsipkan di instagram @cuneksquad21. Malam pertama menginap dalam alunan tenda di pinggir danau dengan udara yang sejuk. 


Angin pagi mulai berhembus namun tampaknya matahari memang enggan menyeruak dari persembunyiannya. Kami tidak membuang waktu untuk menikmati pagi di pinggir danau sembari memotret dan sekadar menghirup udara dingin nan segar itu. Sebagian menyiapkan sarapan pagi dengan menu mie goreng, telur ceplok, dan sisa sosis semalam. Sebagian lainnya tergabung dalam tim cuci piring. Tim ini memilih mencuci langsung dengan air danau. Kapan lagi mencuci piring with a view, ya 'kan? Pemandangan di Alahan Panjang ini memang langka dan tiada duanya. Wajar saja jika menjadi spot wisata yang sedang digandrungi. Danau yang dikelilingi padang bukit yang hijau ditambah sentuhan kabut putih tipis nan magis dan juga pepohonan pinus seperti dalam dunia Ghibli atau bahkan Hogwarts? Meski langit tidak begitu cerah, sedikit cahaya matahari dari balik kabut menghasilkan pandangan yang terpantul di permukaan air seperti cermin. Subhanallah MasyaAllah sekali.





Kami tidak membuat itinerary khusus. Ketika sudah mulai sedikit cerah sekitar pukul 10 kami mulai bergerak menuju area Sianik Sarumpun, masih di Alpen. Berbeda dengan Pulau Pimpiang, area perkemahan ini lebih terbuka dengan sedikitnya pohon pinus, menghadirkan panorama dari atas bukit dan juga pinggir danau, dan kebanyakan dihuni oleh pelanggan yang terlah bekeluarga yang membawa anak kecil. Poin plusnya adalah kamar madinya lebih bersih. Sembari menikmati es puter keliling, kami meghabiskan waktu dengan menjepret berbagai momen dan pemandnagan. Lokasi ini kerap dijadikan venue untuk prewedding, loh!


Siang mulai menjelang, air hujan pun mulai turun perlahan. Dengan berbekal wortel dan kentang hasil membeli di pinggir jalan, dapur cunek squad kembali digelar. Mengirup kuah sup yang hangat di bawah rintik gerimis menambah kenikmatan menu sederhana ini. Tidak berlama-lama, selepas asar, para pasukan sudah siap mencicipi beverage di Solok Radjo, cafe yang terkenal di sini. Benar saja. Cafe Solok Radjo ini terbagi menjadi 2 bagian. Bagian atas di sisi kiri jalan dengan pemandangan menghadap ke bawah, dna bagian bawah di sisi kanan jalan yang berada langsung di pinggir danau. Apa kegiatan di sini? Tentu saja tidak ada. Sekadar nongkrong cantik sambil menikmati dinginnya milir angin senja. Jangan berharap sunset, ya! Sudah diceritakan sebelumya kalau hari ini cuaca mendung dan hujan kian mengguyur dengan lembut.


Kembali lagi ke penginapan, eits maksudnya perkemahan. Jumlah personil berkurang 2 orang yang sudah pulang duluan. Kami berbagi jobdesk, ada yang menyiapkan makan malam, ada yang membereskan tenda. Salah satu tenda yang dihuni para wanita bertahan mendapat keluhan kedinginan di malam sebelumya karena tidak bisa tertutup rapat. Servis tenda mendadak pun diadakan. Memperbaiki risleting tenda yang sudah rusak bukan hal yang dapat diselesaikan dengan singkat. Pada akhirnya, pintu tenda ditutup dengan menggunakan banyak jarum pentul dan lapis luarnya diganjal dengan sandal. Malam ini kami menghabiskan malam dengan lebih santai. Dinginnya angin danau berhembus menembus tulang. Suhu 16 derajat malam ini membuat kami bergemul dalam selimut masing-masing. Syukurlah, setidaknya tenda sudah diservis ketika angin menyerang. Bagi yang mudah merasa keidinginan, jaket tebal, sarung tangan musim dingin, serta kaos kaki menjadi bekal tempur yang wajib dimiliki. Oh iya, jangan takut tidak bisa tampil cantik karena harus selalu mengenakan jaket saat foto-foto. Tenang. Bisa diakali dengan mengeakan heattech atau manset kemudian kenakan baju terbaikmu di bagian luar. Penampilan tetap slay dan anti dingin.



Berlayar di Danau

Pagi terakhir dalam rangkaian Cunek Squad Goes to Sumatera Barat kali ini. Seperti biasa, gelaran dapur "mbg" kembali dibuka. Kepala chef membuat resep mie berkuah dengan telur ceplok. Para pasukan diarahkan mulai mengemas barang pribadi. Tampaknya, angin malam tadi masih enggan beranjak pergi. Panci untuk memasak mie pun tidak terasa panas ketika disentuh meskipun air yang dimasak telah mendidih. Kami menyantap sarapan nan nikmat itu dengan pemadangan indah yang bak lukisan ini.

Tenda mula dibongkar. Satu per satu barang kembali naik ke bak mobil pick up. Belum pulang. Kami berniat menikmati langsung suasana air danau dengan menaiki kapal yang tersedia di area ini. Biayanya 20.000 per orang dengan muatan maksimal 12 orang. Kami menyewa 2 kapal sehingga pasukan terbagi menjadi 2 tim. Mengitari Danau Di Atas di sekitar area ini secara langsung meghadirkan pengalaman yang berbeda dari di daratan. Pengendaranya ramah. Sesekali beliau mengurangi kecepatan agar kami dapat menikmati suasana danau hingga puas. Berakhir sudah waktu yang kami habiskan di area perkemahan yang teduh ini. Kami bergerak menuju Solok Radjo karena Kepala Panitia hendak bermain jetski. Biayanya 350.000 tanpa drone dan 600.000 dengan drone. Aktivitas yang tergolong water sport ini dikelola oleh pihak cafe. Kalau ini sih perlu antri yaa. Jadi sebaiknya bersiap dari pagi. Para pasukan lainnya bersiap antri untuk mengabdikan momen di jembatan yang viral di dekat sini.




Usai sudah semua rangkaian liburan kami di Alahan Panjang. Berbeda dengan hari sebelumya yang mendung dan gerimis, kami bergerak pulang di bawah sinar mentari yang terik dengan berbekal nasi bungkus. Perhentian untuk menikmati makan siang berada di pinggir jalan sambil memandangi kebun teh Danau Kembar. Tak lupa membeli oleh-oleh di pinggir jalan. Sekian perjalanan bersama pasukan dari berbagai kalagan usia (range umurnya saja hampir 20 tahunan, loh!) Sampai jumpa di episode Cunek Squad selanjutnya!










Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Wah, ini pas banget kalau diminta guru membuat karangan Bahasa Indonesia tentang liburan sekolah biar judulnya nggak melulu Berlibur ke rumah nenek. Yap! Kali ini, for the first time, kami mengadakan trip bareng sepersepupuan tanpa orang tua tentu saja, dengan tajuk Cucu Nekno Squad goes to Sumatera Barat. Drumrolls. Semua bermula ketika salah satu cucu nekno yang baru lulus SMP sudah bosan dengan masa penanggurannya selepas ujian sekolah.

Kurang lebih satu dekade lalu, trip persepupuan ini sudah pernah  dilaksanakan dengan sama-sama   menjelajani keindahan Sumatera Barat,  provinsi yang dianugerahkan keindahan alam seperti tidak ada habisnya. Hanya saja, masih disponsori para orang tua.  Bisa  intip keseruannya di sini.

Rapat Demi Rapat

Awalnya, ide camping ini hanya sampai di Jangkat saja dengan pertimbangan minim waktu dan biaya. Menyatukan pendapat  banyak kepala memang tidak pernah berjalan mudah. Muncul pula usul untuk mengubah tujuan ke Kerinci saja. Berkemah di area Rawa Bento dengan pemandangan Gunung Kerinci. Tanggung kalau ke Kerinci, gas langsung. Alahan Panjang. Begitulah kira -kira hasil rapat yang berlangsung hingga pukul 1 malam itu.

Pihak panitia inti (ceileh, panitia nggak tuh?!) yang tergabung dalam kepanitaan tak kasat mata ini adalah cucu nekno yang ikut trip dan sudah bekerja. Panita mulai bergerak dengan mendesain baju kaos seragam Cunek Squad. Yang tidak ikut berlibur pun juga sangat diperbolehkan memesan seragam resmi ini.

Rapat kedua dilaksanakan dengan fokus membahas moda transportasi. Kendaraan Hi-ace menjadi opsi utama dengan mempertimbangkan membawa bersama 12 peserta beserta semua perlengkapan perkemahan dan juga perlengkapan  pribadi. Yah, bayangkan saja,  dari 12 orang ini, 70% dari  keseluruhan adalah perempuan. Kebayang 'kan gimana rempong dan banyaknya barang yang bakal dibawa? Berbagai agen penyewa  mobil  Hi-ace telah dihubungi. Hanya saja, semua opsi yang tersedia melebihi budget yang ada.

Dalam rapat ketiga diputuskan untuk menggunakan 1 mobil pick up yang dapat ditumpangi 3 orang agar lebih leluasa membawa barang. Peserta sisanya akan menyewa 1 family car beserta supir yang on budget.

Persiapan Logistik



Adapun logistik yang kami bawa antara lain:
1. Kompor 1 tungku beserta gas 3kg
2. Kompor portable
3. Kompor bunga (untiuk memasakar)
4. teko masak air
5. Panci
6. Kuali
7. Kabel terminal (separjang mungkin)
8. Kabel terminal pendek
g. Speaker (Buat karaokean)
10. Telur 1 Karpet
11. Mie 1 Kardus (dengan berbagarasa)
11. Kopi sachet ( 1 renteng)
13. Minuman coklat Sachet (1 renteng)
14. Bubuk perbumbuan duniawi
(lada bubuk, bubuk bakso, bawang putih bubuk)
15. Minyak goreng
16. Galon air (2 bh)
17. Kursi bambu buat nongki cantik ( 2 bh)
18. Meja
19. Tenda untuk 4-5 orang (3 bh)
20. Minyak goreng 1 lt
21. Beras
22. Penanak nasi
23. Karpet/matras untuk alas di masing-masing tenda
24. Piring
25. Gelas
26.  Sabun cuci piring


Keberangkatan


Akhirnya, setelah berbagai rapat dilalui dan para pasukan sudah kembali dari perantauan perjalanan dimulai pada 4 Juli 2026. Mobil bertolak dari Sarolangun pada pukul 7 malam. Menjemput separuh pasukan di Bangko dan menyusun barang yang berabrek-abrek sembari membeli kudapan dan minuman untuk dikonsumsi selama awal perjalanan, Cunek Squad siap menuju sumatera Barat pukul 22.40 WIB.

Perjalanan

Udara dingin mulai terasa saat menempuh Kabupaten Sawahlunto. Hal ini bertolak belakang dengan antrian pom bensin. Kami tidak menyangka jika pembelian BBM semakin sulit saat masuk Provinsi Sumatera Barat. Terutama jika lewat tengah malam, SPBU sudah tutup namun antrian mobil menjalar hingga berkilo-kilometer. Mobil pick up  ini  pun terpaksa membeli bensin ketengan agar tetap  berjalan. Selama perjalanan pun ada sebagian jalan yang sedang diperbaiki sehingga berlaku buka-tutupjalan.  Syukurlah karena kami menempuh di  malam hari   sehingga  antriannya tidak begitu lama.

Sebelum  pukul 5 pagi, kami beristirahat di Solok sembari menunggu subuh. Rumah makan Huller Mama selalu menjadi pilihan. Kamar mandi yang banyak dan tertutup, mushola yang memadai,  tempat makan yang juga besar, dan terutama tersedia  terminal listrik  hampir  di setiap meja membuat resto satu ini tidak  pernah sepi pengunjung. Walau dengan fasilitas  yang lengkap untuk para pejalan jauh, harga makanannya tidak  selangit. Sebenarnya, ini  lokasi yang pas  untuk mandi dan berganti pakaian namun karena kami berpisah jauh dengan   mobil satunya, niat tersebut  diurungkan.

Selesai istirahat sejenak,  perjalanan berlanjut dengan menuruni punggung Bukit Barusan via Sitinjau Lauik Road, elee. Pemandangan yang begitu asri diiringi dengan belokan tajam, kontur jalan yang curam, berselisih dengan mobil tangki minyak atau fuso pembawa barang, semakin memicu adrenalin karena pengingat bensin mobil pick up sudah berkedip. Haha. Dengan berakhirnya jalanan ekstrem tadi menandakan kita sudah dekat sekali dengan Kota Padang. Eits,  jangan lupa isi bensin di SPBU yang tepat berada di bawah  roller coaster mobil tadi.

Mobil sudah siap,  giliran para penumpang menyiapkan diri. Melipir di masjid besar di pinggir jalan untuk membersihkan diri  dan berganti pakaian dengan seragam andalan. Kadang komedi sendiri yang menghampiri hidup ini. Mobil pick up yang kami tumpangi diarahan untuk parkir  di luar halaman masjid. Selidik punya selidik, Bapak tukang parkir  mengira mobil ini membawa barang jualan. Kebetulan masjid yang agak besar dan berada di pinggir jalan ini memang lokasinya dekat pasar. ToT.  Kami pun menjelaskan maksud dan tujuan kami hingga akhirnya diarahkan untuk dapat parkir di halaman masjid. Bayangkan saja,  mau bongkar muatan yang isinya pakaian di tengah pasar. LOL. Tak lupa menunggu para gadis berias diri yang memang memakan waktu lumayan lama ya guys ya. Untung diri ini nggak sampai ketiduran.  Yosh! Siap menuju destinasi pertama.

Pantai Nirwana



Pantai Nirwana menjadi babak pertama dari keseluruhan rangkaian Cunek Squad Goes to Sumatera Barat ini. Untuk menuju Pantai Nirwana, kita tidak perlu memasuki Kota Padang. Belok kiri di pertigaan Pasar Bauang, ikuti rambu-rambu yang ada menuju Teluk Bayur yang terkenal itu kemudian tidak berapa jauh dari sana. Pantai Nirwana identik dengan  hamparan pohon kelapa di  garis pantai hingga di daratannya. Begitu pula terumbu karang yang banyak ditemui di penggir pantai. Air lautnya yang lumayan tenang dan tidak begitu dalam, cocok bagi yang mau bermain air atau mandi.



Kami tiba sekitar pukul 10.00 WIB dengan membayar  tarif IDR20.000 per orang,  tidak termasuk biaya parkiar. Sayangnya, cuaca kurang mendukung.  Langit tampak tidak begitu ceria, meski begitu, tidak mengurangi keseruan kami menghabiskan waktu bersama. Yah, walaupun harus angkat bentang karpet karena kadang gerimis kadang reda. Akhirnya awan menumpahkan isinya saat azan Zuhur berkumandang. Tenang saja karena fasilitas di pantai ini dilengkapi dengan masjid, toilet, dan kamar mandi untuk bilas yang nyaman. Usai mendirikan solat, kami kembali membentang karpet andalan untuk menyantap nasi bungkus sebagai menu makan siang hari ini. Wah, memang harus makan sedikit lebih cepat karena langit mulai bergemuruh.  Hujan makin deras dan kami meninggalkan Pantai Nirwana menuju Alahan Panjang. Cukup sekian dulu, ya! Nanti disambung dengan postingan Alahan Panjang.




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


SINOPSIS

Oomori Rika, seorang pegawai baru perusahaan distribusi buku ditempatkan di Cabang Osaka setelah menjalani pelatihan yang diwajibkan. Sebagai gadis yang sedari lahir hingga tamat kuliah menghabiskan seluruh hidupnya di Tokyo, Rika menghadapi tantangan besar untuk hidup di lingkungan baru. Beradaptasi dengan suasana dan kebiasaan baru menjadi PR besar bagi Rika yang pertama kali menginjakkan kaki di Osaka. Orang-orang Osaka dianggap kasar, lebih bar bar, dan lebih nyentrik. Tidak hanya itu, pada dasarnya Rika bukanlah pecinta buku. Bagaimana ia menjajakan buku padahal sendirinya tidak begitu paham?

Seandainya bernasib sial, buku-buku itu akan dipotong-potong dan terlahir kembali sebagai tisu toilet. Hidup memang seperti itu, tetapi tetap saja aku merasa agak tertekan.

Sebuah kesalahan dibuat Rika membuatnya dipanggil oleh Kepala Divisi. Rika yang merasa tertekan dengan pekerjaaan baru dan cara hidup yang baru pun mengeluarkan emosinya. Kepala Divisi berinisiatif menginstruksikannya ke Toko Buku Kobayashi. Bertemu dengan Yumiko Kobayashi, sang pemilik toko buku kecil tua di dekat pusat perbelanjaan Amagasaki menjadi oase bagi Rika. Kisah yang diceritakan Yumiko dengan tenang namun menarik memberikan pencerahan bagi gadis yang sedang kalut ini.

Energi positif yang dihaturkan lewat ketenangan cerita Yumiko mengubah Rika dalam melakukan pekerjaan. Lambat laun, Rika mulai menyadari candaan kasar yang ia terima saat awal tiba di Osaka merupakan bentuk pengakraban. Kini ketika dilanda kebingungan, Rika akan kembali ke Toko Kobayashi, mendengarkan cerita Yumiko, oase dalam perjalanan hidupnya.

Sosok Yumiko Kobayashi diambil dari tokoh nyata. Begitu pula dengan Toko Buku Kobayashi yang menjadi latar utama. Tetsuya Kawakami sebagai penulis buku ini pernah bertemu langsung dengan beliau. Tutur kata Yumiko lewat ceritanya yang membawa energi positif inilah yang ingin disebarluaskan penulis.



ULASAN

Membaca buku ini bagai dipeluk dengan hangat, dinasihati dengan lembut tanpa menggurui. Tetsuya Kawakami berhasil menghadirkan kehangatan Yumiko dalam tulisannya. Pembaca pun juga ikut tersedot dalam kisah Yumiko. Bukan kebahagiaan yang meriah, buku ini membawa ketenangan, bahwa kebahagiaan juga didapatkan dalam ketenangan. Tidak heran jika banyak alumni buku ini langsung ingin mengunjungi Toko Kobayashi dan berjumpa dengan Yumiko-san. Sama seperti Rika, semoga kita dapat menemukan semangat dalam menjalani pekerjaan dengan tekun dan ikhlas.

Setelah membaca buku ini, satu hal yang paling saya sadari. Suasana dan antusiasme membaca buku di Jepang berbeda dengan Indonesia. Toko buku hadir hingga kota kecil di Jepang sedangkan di Indonesia, tidak ditemukan toko buku bahkan di pusat kabupaten. Hal itu semakin saya rasakan sebagai orang yang lahir dan besar di Palembang kemudian bekerja di daerah kabupaten. Akses minim terhadap buku ini dapat menjadi faktor rendahnya literasi di Indonesia. Meski dilanda jual beli online, Toko Buku Kobayashi masih bertahan hingga sekarang menandakan bahwa kehadiran toko buku dan dukungan para pelanggan setia yang senantiasa terus menerus membaca dan membeli bahan bacaan menunjukkan perbedaan kebiasaan membaca.

Di dunia ini ada begitu banyak toko buku. Bisnis kita berjalan karena pelanggan yang membeli produk kita. Dengan melakukan layanan seperti itu, akan selalu ada pelanggan yang membeli, maka apa pun yang terjadi, kita harus menundukkan kepala sambil mengucapkan terima kasih. Tidak ada yang namanya terlalu bersyukur.

Bertemu dengan orang yang memiliki hobi yang sama juga dapat menumbuhkan rasa suka cita yang tak ternilai. Saling merekomendasikan buku favorit pada sesama peminat buku menjadi hal yang langka.

Sekali lagi, aku sadar bahwa buku tidak hanya bisa dinikmati sendirian. tetapi juga bisa menjadi alat komunikasi yang cemerlang, Jika digali lebih jauh, bisa jadi akan melahirkan model bisnis baru yang dapat mengubah masyarakat




REKOMENDASI

Buku ini cocok direkomendasikan pada orang yang baru mau menjadikan membaca buku sebagai hobi seperti Rika-san yang baru mulai menumbuhkan minatnya pada buku setelah bekerja di dunia penerbitan. Halamannya tidak banyak, bukunya tidak tebal. Cocok sekali untuk pandangan pertama jatuh cinta pada buku. Dan buat kamu yang sudah suka membaca buku, buku ini akan membuatmu lebih jatuh cinta lagi pada buku.

Selain itu, mengikuti kisah Rika, buku ini cocok dibaca bagi kamu yang mendapatkan pekerjaan baru, dipindahkan, atau bahkan pertama kali merantau karena pekerjaan. Sedikir banyak kamu akan mendapatkan motivasi dari kisah Yumiko yang diimplementasikan oleh Rika.

Entah itu tentang pekerjaan, perusahaan, maupun orang-orang di sekitar, carilah sesuatu darinya yang bisa membuatmu jatuh cinta, satu demi satu. Secara alamiah, kau akan semakin penasaran. Kau bisa menerapkannya pada apapun. Sudah jadi jodohmu bekerja di Daihan, tapi semua akan percuma kalau kau tidak menyukai pekerjaanmu, perusahaanmu, dan orang-orang di sekitarmu.

Bagi saya sendiri, buku ini menetralisir pikiran dengan menghadirkan kehangatan  setelah membaca Malice yang dipenuhi kebencian di akhir.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 



Baca Malice karena sebelumnya sudah baca The Newcomer. Katanya, lebih baik tuntaskan sesama series Kaga dulu baru lanjut baca novel Keigo Higashino lain. Berdasarkan urutan terbit, Malice yang dalam bahasa aslinya berjudul Akui memang lebih dulu. Kaget juga, ternyata Akui dan Aku lahir di tahun yang sama, 1996. Sebuah kebetulan yang mengejutkan, haha XD. Terdapat 9 novel yang tergabung dalam kisah Detektif Kaga namun yang diterjemahkan dalam bahasa kita baru 2 ini. Nggak papa, nikmatin saja.

SINOPSIS




Cerita bermula dari seorang penulis buku anak bernama Nonoguchi Osamu yang mengunjungi rumah sahabatnya, Hidaka Kunihiko, sebelum sahabatnya ini pindah ke Kanada. Malam setelah pertemuan ini, Hidaka Kunihiko, sang novelis terkenal ditemukan tidak bernyawa di ruang kerjanya. Yang menemukannya tidak lain dan tidak bukan sahabatnya sendiri, Nonoguchi bersama istrinya, Hidaka Rie.
Tidak lama bagi Detektif Kaga untuk menemukan pelakunya. Bersama dengan timnya, kepolisian berhasil meringkus pelaku sekaligus bukti.

Satu-satunya misteri yang belum terpecahkan adalah motif tindakan pelaku. Ditambah lagi, Kaga mengenal secara pribadi si pelaku tersebut karena pernah bekerja di tempat yang sama, sebagai guru. Kini, Kaga berfokus mencari tahu kenapa pembunuhan tersebut bisa terjadi. Detektif Kaga sampai harus mengulik masa lalu dua sahabat yang mengaku sudah akrab sedari kecil itu, oleh salah satu pihak, karena pihak satunya adalah korban. Pantang menyerah, Kaga menyelidiki orang-orang yang mungkin mengenal atau mengetahui mereka di masa lalu. Pertarungan Kaga vs Pelaku ini menjadi pertarungan sengit yang memang mempertaruhkan ketangguhan dan intuisi Kaga sebagai detektif.




ULASAN

Novel ini menghadirkan pola penyampaian cerita yang unik. Satu dari sudut pandang Nonoguchi Osamu dalam bentuk catatan dan satunya lagi dari sudut pandang Kaga Koichiro yang berbentuk monolog. Percakapan hanya hadir dalam paruh pertama isi buku.

Berbeda dengan The Newcomer yang menghadirkan banyak tokoh sampingan di awal cerita, Malice menuntaskan kasus hanya dalam beberapa bab awal. Bahkan pembaca tidak perlu repot menebak ke sana kemari. Pembaca digiring untuk menebak kemana cerita ini akan bermuara karena semua yang dibutuhkan untuk menjatuhi hukuman pada pelaku sudah lengkap. Pembaca diombang-ambing dalam satu per satu kisah yang terungkap. Pesan saya hanya satu, tolong baca buku ini sampai tuntas. Dengan begitu, kalian akan memahami mengapa buku ini diberi judul Malice atau Akui yang berarti kebencian hingga membuat bulu kuduk merinding.

Yah, jika dalam suatu cerita terdapat dua tokoh penulis, biasanya salah satunya merupakan ghost writer. Inilah yang menjadi landasan awal pelaku mengembangkan imajinasi liarnya. Saya sebut Keigo Higashino-sensei ini cukup berani membahas tentang ghost writer, topik yang sensitif untuk penulis.





Keigo Higashino memang cerdas dalam menciptakan karakter Kaga Kyoichiro. Ia melahirkan tokoh detektif yang tidak menonjolkan kepintaran dan pengetahuan layaknya Sherlock Holmes melainkan menonjolkan sisi humanis yang biasanya malah jadi kelemahan di kebanyakan tokoh dengan profesi ini. Meski begitu, intuisi khas detektif yang mencurigai segala hal masih ditanamkan pada detektif satu ini. 



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Pembunuhan di Nihonbashi jadi novel karya Keigo Higashino pertama yang saya baca. Terlebih dulu sudah menikmati karya Keigo Higashino-sensei secara tidak langsung lewat adaptasi film Toko Kelontong Namiya yang sangat heart warming itu.

The Newcomer yang dialihbahasakan menjadi Pembunuhan di Nihonbashi ini merupakan salah satu dari dua novel dengan tokoh utama Detektif Kaga. Banyak pembaca yang menganggap buku ini membosankan. Bagi saya, caranya saja yang unik dan berbeda. Meskipun bergenre misteri, novel ini memiliki penyampaian layaknya slice of life. Tidak seperti novel misteri biasa, pendekatan yang dilakukan Detektif Kaga mengalir alami dengan kehidupan sehari-hari.

Alur novel ini terkesan santai. Cocok dibaca ketika ingin melepas penat sepulang kerja meskipun yang dibahas adalah kasus serius, seorang wanita ditemukan tewas tercekik di apartemennya.



Tokoh yang muncul cukup banyak karena kemungkinan pelaku yang luas. Alih-alih membahas korban ataupun rincian kejadian, bab pertama dimulai dengan mengisahkan kehidupan gadis penjaga toko senbei milik keluarganya. Berlanjut pula bab-bab selanjutnya yang menguak kehidupan manusia dari berbagai latar. Begitulah pendekatan yang dilakukan Detektif Kaga untuk menyeleksi alibi penduduk distrik Nihonbashi yang mungkin berhubungan dengan korban. Ya, tidak salah lagi. Kaga Kyoichiro si detektif pendatang baru itu memang sedang melakukan penyelidikan. Saat melakukan introgasi dan pengamatan yang pun ia masih sempat menyelesaikan  masalah keluarga tokoh yang diwawancaranya. Setiap latar pun dideskripsikan sedetil mungkin. Pembaca layaknya diajak berkeliling distrik Nihonbashi sepanjang cerita.

"Pekerjaan penjual mainan adalah menjual mimpi, dan itu harus dilakukan dengan perasaan gembira. karena itulah saya tak mau mendengar kisah-kisah buru


Tidak ada keterburuan-buruan dalam penangkapan pelaku seakan mereka yakin saja pelaku tidak akan kabur. Jarang sekali menemukan tokoh detektif yang menyelesaikan kasus dengan membawa perasaan manusia ke dalam prosesnya. Keigo-sensei menciptakan tokoh detektif yang langka lewat karakter Kaga dengan tidak menonjolkan kepintaran ala tokoh detektif melainkan sisi humanis namun tidak meninggalkan intuisi khas detektif. Pendekatan inilah yang membuat Shinzanmono, begitu judul asli novel ini, cocok bagi pemula yang baru mau terjun ke dalam genre seperti ini.

Berbeda dengan umumnya, novel misteri biasa memunculkan informasi kejadian beserta para tersangka yang kemudian pembaca digiring menebak siapa pelakunya. Kali ini, Keigo-sensei menghadirkan cara yang berbeda. Bahkan pembaca saja tidak disuguhkan dengan informasi mengenai kasus yang terjadi di awal cerita. Siapa korban? Apa pekerjaan korban? Dimana lokasi kejadian? Bagaimana korban bisa tewas? Siapa yang menemukan korban pertama kali? Semua pertanyaan itu tidak serta merta hadir, melainkan terjawab satu per satu hingga akhir kisah. Penyelesaian kasus semakin lamban karena kepolisian sama sekali belum menemukan bahkan mengetahui senjata yang digunakan pelaku.

"Bahwa memang seperti itulah anak-anak. Mereka selalu mengira bisa tumbuh besar dengan kekuatan mereka sendiri dan begitu saja melupakan betapa orangtua mereka selama ini melindungi mereka




TRIVA

Buku fiksi yang aslinya, Shinzanmono yang terbit tahun 2009 ini dianugerahkan sebagai  The Best Japanese Crime Fiction of the Year. Oh iya, sedikit informasi saja kalau novel ini sudah ada adaptasi live action-nya dalam bentuk serial 10 episode  yang tayang tahun 2010 lalu di Jepang. Aktor kawakan yang hingga saat ini masih berkarya di dunia perfilman Jepang yakni Hiroshi Abe yang menghidupkan tokoh Kaga dalam dunia nyata.

Terima kasih pada penerjemah dan Gramedia Pustaka Utama , akhirnya kami dan kita bisa menikmati terjemahan karya penulis luar juga, huhu. Kita sudah sejauh ini /terharu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

Stray -blogger. Anime-manga-dorama lover. Amateur wpap-er. Subber. Light up your world with colours and words.

Follow me!

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • youtube

Categories

  • animasi
  • Biografi
  • Buku
  • Climate action
  • Daily chit chat
  • karyakuu
  • Komik/Manga/Manhwa/Webtoon
  • Lomba blog
  • Movie
  • musik
  • Newsflash
  • Pesona Indonesia
  • serial drama
  • tips and trick
  • Wonderful Indonesia

recent posts

Sponsor

Followers

Komunitas

Komunitas
Literasikk

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates