Cunek Squad Goes to Sumatera Barat: Alahan Panjang

by - 09.22

Mari kita lanjutkan perjalanan menuju tujuan utama perkemahan yakni Alahan Panjang. Mobil berangkat dari Pantai Nirwana sekitar pukul 2 siang di bawah derasnya hujan. Rute perjalanan kembali mendaki Sitinjau Lauik Road dengan jarak pandang yang sangat dekat akibat kabut. Tidak seperti pagi hari, perjalanan kali ini dipadati oleh berbagai kendaraan sehingga memakan waktu lebih lama. Jangan lupa berbelok ke kanan di sebuah pertigaan dengan mengikuti petunjuk jalan mengikuti Jl.Padang - Alahan Panjang. Jika pemandangan telah berubah menjadi perkebunan teh berarti lokasi perkemahan semakin dekat. Ngapain sih ke Alahan Panjang? Kok niat banget mau staycation di sana? Mari kita kenalan dulu dengan Alahan Panjang!


Alahan Panjang

Alahan Panjang ini merupakan suatu kawasan yang tergabung dalam Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok. Solok sendiri dianugerahkan keindahan dari Sang Pencipta dengan terbentuknya sepasang danau vulkanik yang terkenal sebagai Danau Kembar yakni Danau di Atas dan Danau di Bawah. Nah, Alahan Panjang mengitari keindahan Danau di Atas. Meskipun namanya Danau di Atas, posisi permukaan danaunya justru malah di bawah dari permukaan jalan. Namun faktanya, secara geografis, permukaan danau ini berada di ketinggian 1.531 meter dari permukaan laut. Layaknya Ranu Kumbolo di Gunung Semeru, sejatinya Danau di Atas ini bisa kita capai setelah menaiki jalan raya dengan topografi mendaki. Tidak heran jika suhu di kawasan ini berkisar 15-22 derajat selsius karena memang tergolong dataran tinggi. Kabut tipis khas dataran tinggi pun tidak luput menyelimuti danau. Makanya, Alahan Panjang dijuluki Kota Dingin Tanpa Salju.

Mengikuti cuaca dingin, tanaman yang tumbuh dengan subur di sini pun juga khas dataran tinggi. Kita akan disambut dengan perkebunan sayur, strawberry, bawang, termasuk juga kebun teh sejauh mata memandang. Pohon Pinus yang tubuh subur di cuaca dingin pun juga hadir menambah keindahan pemandangan pinggir danau. Kehadiran Pohon Pinus, sekaligus cuaca yang dingin, danau yang indah, dan hamparan padang hijau yang luas membuat Alahan Panjang miliki pandangan mirip Swis hingga muncul istilah Swiss van Indonesia.


Camping

Wisata Alam Pimpiang atau Pulau Pimpiang menjadi area perkemahan yang kami pilih untuk staycation. Berada di pinggir danau langsung dan sedikit menjorok ke arah danau serta diteduhi dengan cukup banyak pohon pinus menjadi pertimbangan utama kami agar ketika hujan tidak begitu basah dan ketika terik tidak begitu menyengat. Banyak pula lampu gantung yang disematkan antar pohon sehingga saat malam tidak gelap. Biaya masuknya 20.000 per orang dan 10.000 per mobil. Diperkenankan mendirikan tenda sendiri namun disediakan juga tenda untuk disewakan. Area yang berbatasan langsung dengan danau telah dipenuhi oleh tenda sewaan. Kami pun mendirikan tenda sedikit di tengah. Area perkemahan ini juga dilengkapi dengan cukup banyak kamar mandi hanya saja kebersihan kamar mandinya yang sedikit diragukan. Perlu teliti memilih kamar mandi yang sesuai. Disediakan pula musola lengkap dengan peralatan solat. Di teras musola terdapat juga terminal listrik.



Kami tiba sekitar pukul 5. Hujan deras sudah mulai mereda hanya tinggal rintik gerimis saja. Kami mulai menurunkan barang, yang pertama tenda. Coba tebak berapa tenda yang kami dirikan? 5 tenda! 3 tenda untuk ukuran 4-5 orang dan 2 tenda untuk ukuran 1-2 orang. Tenda besar diutamakan untuk orang dan tenda kecil untuk logistik namun pada akhirnya, sesuai kehendak masing-masing saja. Tenda sudah berdiri kuat dengan pasak di setiap sudut, saatnya menurunkan logistik dan perlengkapan peribadi. Dan, Wow! Beberapa tas sudah menyerap air hujan sepanjang perjalanan. Meskipun telah diselimuti dengan terpal ternyata tidak luput dari genangan air hujan yang menyerap pada tas ransel pribadi. Beberapa personil mendapati pakaiannya basah bak korban banjir. Ada yang selamat karena setiap pakaian dibungkus lagi dengan kantong plastik, ada juga yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Beberapa helai pakaian yang berada di tas bagian atas masih selamat.

Malam itu, ditemani dengan suara musik yang mengalun melalui pengeras suara yang sudah dipersiapkan, kami menyiapkan makan malam dengan menu bakso plus mie putih dan sosis. Ada pula yang memasak air untuk menyeduh kopi dan menghangatkan badan. Semua aktivitas yang masuk dalam agenda "liburan" ini sebagian direkam dan diarsipkan di instagram @cuneksquad21. Malam pertama menginap dalam alunan tenda di pinggir danau dengan udara yang sejuk. 


Angin pagi mulai berhembus namun tampaknya matahari memang enggan menyeruak dari persembunyiannya. Kami tidak membuang waktu untuk menikmati pagi di pinggir danau sembari memotret dan sekadar menghirup udara dingin nan segar itu. Sebagian menyiapkan sarapan pagi dengan menu mie goreng, telur ceplok, dan sisa sosis semalam. Sebagian lainnya tergabung dalam tim cuci piring. Tim ini memilih mencuci langsung dengan air danau. Kapan lagi mencuci piring with a view, ya 'kan? Pemandangan di Alahan Panjang ini memang langka dan tiada duanya. Wajar saja jika menjadi spot wisata yang sedang digandrungi. Danau yang dikelilingi padang bukit yang hijau ditambah sentuhan kabut putih tipis nan magis dan juga pepohonan pinus seperti dalam dunia Ghibli atau bahkan Hogwarts? Meski langit tidak begitu cerah, sedikit cahaya matahari dari balik kabut menghasilkan pandangan yang terpantul di permukaan air seperti cermin. Subhanallah MasyaAllah sekali.





Kami tidak membuat itinerary khusus. Ketika sudah mulai sedikit cerah sekitar pukul 10 kami mulai bergerak menuju area Sianik Sarumpun, masih di Alpen. Berbeda dengan Pulau Pimpiang, area perkemahan ini lebih terbuka dengan sedikitnya pohon pinus, menghadirkan panorama dari atas bukit dan juga pinggir danau, dan kebanyakan dihuni oleh pelanggan yang terlah bekeluarga yang membawa anak kecil. Poin plusnya adalah kamar madinya lebih bersih. Sembari menikmati es puter keliling, kami meghabiskan waktu dengan menjepret berbagai momen dan pemandnagan. Lokasi ini kerap dijadikan venue untuk prewedding, loh!


Siang mulai menjelang, air hujan pun mulai turun perlahan. Dengan berbekal wortel dan kentang hasil membeli di pinggir jalan, dapur cunek squad kembali digelar. Mengirup kuah sup yang hangat di bawah rintik gerimis menambah kenikmatan menu sederhana ini. Tidak berlama-lama, selepas asar, para pasukan sudah siap mencicipi beverage di Solok Radjo, cafe yang terkenal di sini. Benar saja. Cafe Solok Radjo ini terbagi menjadi 2 bagian. Bagian atas di sisi kiri jalan dengan pemandangan menghadap ke bawah, dna bagian bawah di sisi kanan jalan yang berada langsung di pinggir danau. Apa kegiatan di sini? Tentu saja tidak ada. Sekadar nongkrong cantik sambil menikmati dinginnya milir angin senja. Jangan berharap sunset, ya! Sudah diceritakan sebelumya kalau hari ini cuaca mendung dan hujan kian mengguyur dengan lembut.


Kembali lagi ke penginapan, eits maksudnya perkemahan. Jumlah personil berkurang 2 orang yang sudah pulang duluan. Kami berbagi jobdesk, ada yang menyiapkan makan malam, ada yang membereskan tenda. Salah satu tenda yang dihuni para wanita bertahan mendapat keluhan kedinginan di malam sebelumya karena tidak bisa tertutup rapat. Servis tenda mendadak pun diadakan. Memperbaiki risleting tenda yang sudah rusak bukan hal yang dapat diselesaikan dengan singkat. Pada akhirnya, pintu tenda ditutup dengan menggunakan banyak jarum pentul dan lapis luarnya diganjal dengan sandal. Malam ini kami menghabiskan malam dengan lebih santai. Dinginnya angin danau berhembus menembus tulang. Suhu 16 derajat malam ini membuat kami bergemul dalam selimut masing-masing. Syukurlah, setidaknya tenda sudah diservis ketika angin menyerang. Bagi yang mudah merasa keidinginan, jaket tebal, sarung tangan musim dingin, serta kaos kaki menjadi bekal tempur yang wajib dimiliki. Oh iya, jangan takut tidak bisa tampil cantik karena harus selalu mengenakan jaket saat foto-foto. Tenang. Bisa diakali dengan mengeakan heattech atau manset kemudian kenakan baju terbaikmu di bagian luar. Penampilan tetap slay dan anti dingin.



Berlayar di Danau

Pagi terakhir dalam rangkaian Cunek Squad Goes to Sumatera Barat kali ini. Seperti biasa, gelaran dapur "mbg" kembali dibuka. Kepala chef membuat resep mie berkuah dengan telur ceplok. Para pasukan diarahkan mulai mengemas barang pribadi. Tampaknya, angin malam tadi masih enggan beranjak pergi. Panci untuk memasak mie pun tidak terasa panas ketika disentuh meskipun air yang dimasak telah mendidih. Kami menyantap sarapan nan nikmat itu dengan pemadangan indah yang bak lukisan ini.

Tenda mula dibongkar. Satu per satu barang kembali naik ke bak mobil pick up. Belum pulang. Kami berniat menikmati langsung suasana air danau dengan menaiki kapal yang tersedia di area ini. Biayanya 20.000 per orang dengan muatan maksimal 12 orang. Kami menyewa 2 kapal sehingga pasukan terbagi menjadi 2 tim. Mengitari Danau Di Atas di sekitar area ini secara langsung meghadirkan pengalaman yang berbeda dari di daratan. Pengendaranya ramah. Sesekali beliau mengurangi kecepatan agar kami dapat menikmati suasana danau hingga puas. Berakhir sudah waktu yang kami habiskan di area perkemahan yang teduh ini. Kami bergerak menuju Solok Radjo karena Kepala Panitia hendak bermain jetski. Biayanya 350.000 tanpa drone dan 600.000 dengan drone. Aktivitas yang tergolong water sport ini dikelola oleh pihak cafe. Kalau ini sih perlu antri yaa. Jadi sebaiknya bersiap dari pagi. Para pasukan lainnya bersiap antri untuk mengabdikan momen di jembatan yang viral di dekat sini.




Usai sudah semua rangkaian liburan kami di Alahan Panjang. Berbeda dengan hari sebelumya yang mendung dan gerimis, kami bergerak pulang di bawah sinar mentari yang terik dengan berbekal nasi bungkus. Perhentian untuk menikmati makan siang berada di pinggir jalan sambil memandangi kebun teh Danau Kembar. Tak lupa membeli oleh-oleh di pinggir jalan. Sekian perjalanan bersama pasukan dari berbagai kalagan usia (range umurnya saja hampir 20 tahunan, loh!) Sampai jumpa di episode Cunek Squad selanjutnya!










You May Also Like

0 komentar