REVIEW BUKU : MALICE (CATATAN PEMBUNUHAN SANG NOVELIS) - PERJALANAN MISTERIUS MENYUSURI MASA LALU YANG RUMIT

by - 15.35

 



Baca Malice karena sebelumnya sudah baca The Newcomer. Katanya, lebih baik tuntaskan sesama series Kaga dulu baru lanjut baca novel Keigo Higashino lain. Berdasarkan urutan terbit, Malice yang dalam bahasa aslinya berjudul Akui memang lebih dulu. Kaget juga, ternyata Akui dan Aku lahir di tahun yang sama, 1996. Sebuah kebetulan yang mengejutkan, haha XD. Terdapat 9 novel yang tergabung dalam kisah Detektif Kaga namun yang diterjemahkan dalam bahasa kita baru 2 ini. Nggak papa, nikmatin saja.

SINOPSIS




Cerita bermula dari seorang penulis buku anak bernama Nonoguchi Osamu yang mengunjungi rumah sahabatnya, Hidaka Kunihiko, sebelum sahabatnya ini pindah ke Kanada. Malam setelah pertemuan ini, Hidaka Kunihiko, sang novelis terkenal ditemukan tidak bernyawa di ruang kerjanya. Yang menemukannya tidak lain dan tidak bukan sahabatnya sendiri, Nonoguchi bersama istrinya, Hidaka Rie.
Tidak lama bagi Detektif Kaga untuk menemukan pelakunya. Bersama dengan timnya, kepolisian berhasil meringkus pelaku sekaligus bukti.

Satu-satunya misteri yang belum terpecahkan adalah motif tindakan pelaku. Ditambah lagi, Kaga mengenal secara pribadi si pelaku tersebut karena pernah bekerja di tempat yang sama, sebagai guru. Kini, Kaga berfokus mencari tahu kenapa pembunuhan tersebut bisa terjadi. Detektif Kaga sampai harus mengulik masa lalu dua sahabat yang mengaku sudah akrab sedari kecil itu, oleh salah satu pihak, karena pihak satunya adalah korban. Pantang menyerah, Kaga menyelidiki orang-orang yang mungkin mengenal atau mengetahui mereka di masa lalu. Pertarungan Kaga vs Pelaku ini menjadi pertarungan sengit yang memang mempertaruhkan ketangguhan dan intuisi Kaga sebagai detektif.




ULASAN

Novel ini menghadirkan pola penyampaian cerita yang unik. Satu dari sudut pandang Nonoguchi Osamu dalam bentuk catatan dan satunya lagi dari sudut pandang Kaga Koichiro yang berbentuk monolog. Percakapan hanya hadir dalam paruh pertama isi buku.

Berbeda dengan The Newcomer yang menghadirkan banyak tokoh sampingan di awal cerita, Malice menuntaskan kasus hanya dalam beberapa bab awal. Bahkan pembaca tidak perlu repot menebak ke sana kemari. Pembaca digiring untuk menebak kemana cerita ini akan bermuara karena semua yang dibutuhkan untuk menjatuhi hukuman pada pelaku sudah lengkap. Pembaca diombang-ambing dalam satu per satu kisah yang terungkap. Pesan saya hanya satu, tolong baca buku ini sampai tuntas. Dengan begitu, kalian akan memahami mengapa buku ini diberi judul Malice atau Akui yang berarti kebencian hingga membuat bulu kuduk merinding.

Yah, jika dalam suatu cerita terdapat dua tokoh penulis, biasanya salah satunya merupakan ghost writer. Inilah yang menjadi landasan awal pelaku mengembangkan imajinasi liarnya. Saya sebut Keigo Higashino-sensei ini cukup berani membahas tentang ghost writer, topik yang sensitif untuk penulis.




Keigo Higashino memang cerdas dalam menciptakan karakter Kaga Kyoichiro. Ia melahirkan tokoh detektif yang tidak menonjolkan kepintaran dan pengetahuan layaknya Sherlock Holmes melainkan menonjolkan sisi humanis yang biasanya malah jadi kelemahan di kebanyakan tokoh dengan profesi ini. Meski begitu, intuisi khas detektif yang mencurigai segala hal masih ditanamkan pada detektif satu ini. 


You May Also Like

0 komentar